Derita di Balik Blokade Gaza

Jum'at, 04/06/2010
Tajuk Rencana
Ketika dunia mengutuk Israel karena aksi serangan brutal terhadap kapal-kapal rombongan misi kemanusiaan ke Jalur Gaza, pada saat yang sama ratusan ribu jiwa — termasuk anak-anak — makin tercecar oleh penderitaan akibat blokade pemerintah Israel. Di Gaza, sekitar 1,5 juta penduduk nyaris tak tersentuh oleh bantuan kemanusiaan karena blokade itu. Sikap Israel didasari sentimen konflik bahwa kawasan tersebut dikuasai oleh Hamas, salah satu sayap politik Palestina yang merupakan musuh utama mereka.

Blokade sejak 2007 itu — dengan dalih mencegah pasokan senjata untuk Hamas — menggugah misi kemanusiaan seperti yang kali ini dihalangi secara keji. Entah persepsi apa yang ada di benak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sehingga melawan niat universal para aktivis dari sekitar 40 negara itu. Dunia makin dibuat gamblang mengenai kekejaman rezim zionis itu. Jalan ke arah dialog perdamaian dengan Palestina pun bakal makin sulit, minimal mereka masih akan disibukkan oleh tekanan masyarakat internasional.

Berbagai proses perundingan Palestina - Israel, termasuk yang disponsori oleh kuartet Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Rusia, sejauh ini hanya menjadi ”moratorium” dari kemungkinan-kemungkinan terus meletupnya konflik bersenjata. Tentu dalam posisi yang tidak berimbang. Apalagi dalam membangun opini global, Israel disokong penuh oleh Washington. Namun ketika Tel Aviv membuka ”front” terhadap rombongan misi kemanusiaan, seperti apa ujung sanksi yang mampu menjerat?

PBB menjadi macan ompong dalam setiap resolusi yang digalang oleh dunia internasional terhadap Israel. Terutama karena veto Amerika, yang jelas-jelas memosisikan Negeri Yahudi itu sebagai sekutu utamanya di Timur Tengah. Kali ini, tak pelak lagi, kebrutalan yang dikutuk secara luas oleh dunia internasional, bisa diartikan pula sebagai tudingan ke Gedung Putih. Karena sikap-sikap AS pulalah Israel merasa berada di atas hukum dan bisa memaksakan hegemoni sikapnya untuk membuat negara-negara Arab tak berdaya.

Insiden Mavi Marmara itu mestinya bisa menjadi momentum — yang tidak bisa ditolak lagi oleh kekuatan mana pun — untuk menghukum Israel. Bukankah dari reaksi yang disampaikan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, kita tetap melihat arogansi berupa ketidakpedulian dengan menyatakan mereka sebenarnya hanya membela diri? Dunia harus mampu untuk bergerak dan bertindak secara terpadu, kembali pada ikhtiar bersama untuk memedulikan kondisi penduduk Gaza yang menderita akibat blokade Israel sejak tiga tahun silam.

Secara lebih luas lagi, koreksi berupa pencegahan atas ekspansi Israel yang berlangsung masif terhadap tanah-tanah Palestina lewat pembangunan permukiman Yahudi, harus dilakukan. PBB tidak lagi bisa terus menerus hanya mengikuti kemauan Amerika, yang bahkan dalam insiden misi kemanusiaan itu terlihat ragu-ragu memberi respons. Berdirinya negara Palestina merupakan hak mutlak bangsa yang terusir itu, dan dengan berbagai upaya, masyarakat internasional harus memberikan payung dukungan secara mutlak pula.*Suaramerdeka.com 040610

Read Users' Comments (0)

0 Response to "Derita di Balik Blokade Gaza"

Posting Komentar