Buat Apa Semangat Ibadah Menjelang Ujian

Rabu, 17/03/2010

Ferry Fadillah :
Ibu saya pernah berkata kepada adik saya, “ De, bulan Mei kamu akan menghadapi UN, lihat tuh temen kamu aja bangun jam 4 dini hari untuk shalat tahajud terus belajar, soalnya kakak nya sukses semua setelah melakukan itu.” Adik saya ini sekarang kelas 6 SD dan menurut berita yang ada akan menghadapi Ujian Nasional pada awal Mei 2010, tetapi yang saya amati selama ini adalah bahwa pelajaran yang ia pelajari disekolah hanyalah semata-mata untuk menghadapi ujian sekolah dan ujian sekolah. Yang ada adalah pembodohan manusia kecil dengan kefasihan mereka menghapal teks-teks matematika, IPS, IPA, Agama, PKN dan sebagainya. Seharusnya pelajaran ini diubah menjadi kata pendidikan, biarpun matematika sekalipun seharusnya kita sebut dan perlakukan sebagai pendidikan. Pendidikan itu mengubah pola pikir, cara hidup, dan kedewasaan seseorang dari mulai nol sampai tingkat tertentu. Dan menghapal hanya menjadikan manusia berfikir secara tekstual tanpa memberi kesempatan bagi otak untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan lain dan mengembangkan kreativitas. Jadi saya sangat menyayangkan jika motivasi awal para pelajar dewasa ini ketika menghadapai Ujian Nasional adalah ‘menghapal agar bisa menghadapi ujian’. Oleh karena itu, saya berharap agar semua pelajar di Indonesia mengubah motivasi awal nya dalam mengahadapi ujian sekolah dalam bentuk apapun menjadi : belajar agar paham guna memajukan pola pikir, meningkatkan cara hidup, dan mematangkan kedewasaan serta menambah wawasan.

Yang akan saya bahas lebih lanjut sebenarnya kata-kata ibu saya tersebut yang pada intinya mengajarkan kepada anaknya agar mendekatkan diri kepada Tuhan ketika akan menghadapi ujian. Memang secara fitrah manusia akan mendekatkan diri kepada Tuhan ketika ia akan menghadapi ujian. Saya jadi teringat masa SMA dahulu, begitu penuhnya mushala kami yang kecil dengan siswa kelas III yang akan menghadapi ujian. Hal ini berlaku musiman, hanya terjadi ketika menempuh kelas III dan ketika menginjak ke semester 2. Saya pun termasuk orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan secara musiman tersebut. Dengan semangat menggebu untuk mendapatkan PTN Favorit di kota bandung saya lakukan shalat Tahajud setiap malamnya, saya lakukan shalat Dhuha setiap paginya, bahkan saya lakukan puasa daud sebelum menghadapi ujian. Obsesi begitu amat tinggi dan tentu saja hal ini saya barengi dengan persiapan material seperti les di lembaga pendidikan terkenal di kota Bandung, mengikuti tambahan pelajaran di sekolah, dan berdiskusi pelajaran dengan teman. Tahukah anda apa yang terjadi ketika saya menghadapi SNMPTN , tidak ada satupun pilhan saya yang lolos dalam tes tersebut, yang ada hanyalah kekecewaan dan kemurkaan, lebih-lebih melihat mereka, yang dinilai secara subjektif oleh para siswa sebagai orang yang santai dalam mengahadapi SNMPTN tetapi berhasil lolos dalam pilihannya.

Setelah kejadian tersebut saya tinggalkan semua ibadah sunah yang pernah saya lakukan, tahajud itulah, dhuha itu lah dan puasa daud itulah, SAYA TINGGALKAN SEMUA. Ini bentuk kekecewaan saya dan perenungan bahwa toh mereka yang tidak beribadah seperi saya ini tetap saja dapat mendapatkan PTN Favorit impiannya. Saya lantas berfikir, apakah memang Tuhan tidak mendengarkan doa saya? Apakah Tuhan tidak bisa mendengar? Apakah Tuhan memang memiliki kuasa untuk menjadikan sesuatu?

Semua kemelut dan pertanyaan dalam otak saya yang telah jenuh dengan kegagalan akhirnya terjawab setelah saya diterima dan menjadi perantau di sebuah Perguruan Tinggi Kedinasan di Bali. Menjadi anak kostan dengan minimnya hiburan di dalamnya menajadikan saya menjadi intens untuk membuka pustaka-pustaka islami dan motivasi yang saya bawa dari Bandung dan yang paling terutama adalah Al-Quran.

Setelah saya membaca pusataka-pustaka tersebut dan menghubungkan dengan kegagalan saya selama ini, maka saya membuat beberapa kesimpulan sebagai berikut :

PERTAMA, ada kesalahan dalam niat saya ketika melakukan ibadah –ibadah tersebut. Saya selama itu dan sebanyak melakukan ibadah itu ternyata telah membuat sebuah niat yang mungkin mencemburui Tuhan. Betapa tidak niat saya adalah mendapatkan kelulusan, bukan Ridha Tuhan Yang Maha Esa. Dalam buku yang telah saya baca entah halaman berapa dan buku apa, saya lupa, menyatakan bahwa dalam melakukan sebuah Ibadah hal yang terpenting adalah niat, dan niat yang terbaik adalah menggapai Ridha Tuhan. Saya telah mengabaikan hal ini dan ketika saya gagal, saya menjadi tidak ridha dengan kegagalan tersebut, bahkan saya semakin jauh dari Tuhan (dalam arti positif). Jadi pada intinya apabila kita menjadikan Ibadah (termasuk doa) kita selama ini dengan niatan awal menggapai kehidupan duniawi maka bersiaplah dikecewakan dunia, dan apabila kita menjadikan ibadah kita selama ini dengan niatan menggapai ridha Allah maka kita pun akan siap untuk ridha menerima hasil yang Tuhan berikan. Kesimpulan saya ini bukanlah sebuah hipotesa saja, karena sudah saya praktikan dalam kehidupan saya, dan Ibadah saya terasa menjadi lebih ringan, ikhlas dan tidak melekat kepada hal-hal keduniawian.

KEDUA, adalah kesalahan saya untuk tidak mempercayai bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik pada umatnya. Saya tidak percaya ini dan kehidupan saya menjadi penuh kekecewaan setelah gagal menghadapi ujian. Saya berharap kepda pembaca agar percaya sajalah kepada hal ini, percayalah bukan hanya sekedar percaya, tetapi benar-benar percaya. Buktinya setelah ditolak oleh PTN Favorit saya diterima oleh PTK Favorit. Jika di PTN saya harus merogoh kocek jutaan rupiah untuk iuran semester, uang seragam, uang praktik dan uang-uang lain berkenaan dengan pendidikan. Di PTK saya hanya merogoh kocek untuk biaya hidup, semua hal-hal berkenaan tentang pendidikan di tanggung oleh negara. Ini merupaka pilihan terbaik yang diberikan oleh Tuhan dalam kehidupan saya, mengingat pada saat itu keluarga saya sedang mengalami krisis finansial. Begitu adilnya kan Tuhan, maka percaya sajalah.

KETIGA, saya tidak menyediakan waktu luang untuk melihat dan menikmati proses kehidupan ini. Begitu gigihnya saya dalam beribadah dan belajar sampai-sampai lupa untuk menjaga kesehatan saya, yang ada hati menjadi kacau beliau. Jasmani yang terganggu karena obsesi dalam melakukan Ibadah dan belajar telah menjadikan ada sebuah ketidak tenangan dalam hati saya. Hiburan yang terbengkalai membuat hati saya beku akan keindahan dunia ini dengan segala kemajuan dan perbedaanya. Saya jadi ingat kata-kata seorang guru zen, “ kehidupan akan di penuhi kebahagiaan jika kita meluangkan waktu kita untuk menikmati proses kehidupan serta menjaga keseimbangan kehidupan jasmani, kehidupan rohani dan kehidupan materi.”. Inilah kalimat yang telah mencerahkan saya dalam menjalani kehidupan ini.

KEEMPAT, saya belum memantaskan diri untuk mendapatkan doa yang saya panjatkan. Saya berdoa tetapi saya tidak belajar seperti mahasiswa PTN Favorit tersebut, saya tidak berpola pikir seperi mahasiswa PTN Favorit tersebut dan saya juga tidak sesemangat seperti mahasiswa PTN Favorit tersebut. Dan tentulah, apakah saya pantas berada di PTN Favorit tersebut?. Saya kerap kali menyalahkan Tuhan atas nasib yang saya terima. Dan saya tercerahkan bahwa Tuhan memberikan kita kebebasan seluas-luasnya untuk menentukan nasib kita sendiri asalkan kita memantaskan diri kita untuk nasib tersebut. Seperti aya Al-Quran :

“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (AL-Anfal: 53)

Saya jadi teringat dengan kekasih (yang telah menjadi sumber inspiasi saya) yang berargumen tentang makna keajaiban. Dan saya simpulkan bahwa keajaiban akan Tuhan berikan kepada kita selaku hambanya khusus kepada kita yang telah memantaskan diri untuk mendapatkan keajaiban tersebut.

Itulah kesimpulan-kesimpulan yang telah saya paparkan. Pada akhirnya akhirnya saya sadar menjadi sesadar-sadarnya bagaimana cara menghadapi sebuah kegagalan dalam kehidupan ini. Tentu di atas adalah pemaparan tentang ujian sekolah tetapi saya yakin bahwa hal ini akan relevan untuk menghadapi semua ujian-ujian dalam kehidupan kita ini. saya sendiri bukanlah seorang Rohis yang dengan semangat keTuhanan dapat mengahapal ratusan ayat-ayat Al-Quran dan mengeluarkannya ketika membuat sebuah kajian, saya sendiri bukan seorang alim yang begitu semangatnya menjaga nilai-nilai kehidupan seperti yang sudah disuratkan AL-Quran dan Al-Hadist, saya juga bukan seorang yang berpendidikan tinggi dan berotak cerdas yang dengan mudahnya menggunaka kata-kata ‘mewah’ dalam membuat kajian. Karena saya adalah saya, dengan segala kelemahan dan kelebihan, yang hanya berusaha menghubungkan kehidupan yang lalu dengan isyarat-isyarat Tuhan, dan berharap agar menjadi manfaat bagi semua manusia di bumi ini.

*puasa daud adalah puasa yang dilakukan sehari berpuasa dan sehari lagi tidak/ selang sehari tidak puasa *Kompas.com 17032010

Read Users' Comments (0)

0 Response to "Buat Apa Semangat Ibadah Menjelang Ujian"

Posting Komentar